Epik 8AUG di BPN


Saatnya untuk relax, jalan-jalan, melihat keramaian kota.
Menarik jika saya bilang tentang Balikpapan. Saya merasakan adanya kebanggaan dari penduduknya tentang kota mereka. Ya bangga dengan ketertiban lalu lintas, bangga dengan kebersihan dan segalanya.
Ada hal yang membuat saya lebih menarik dan menguatkan jatuhnya cinta saya ke Balikpapan. Di seputaran lapangan, yang saya lupa namanya, depannya Masjid Istiqomah tepatnya di bunderan Tugu Australia, ntar diceritakan kenapa, ada hal yang unik. Ada jalur khusus untuk pesepeda, ya sepeda onthel. Tepatnya satu segmen jalan selebar 1 meter yang dicat hijau dan diberi batas garus kuning, semacam marka jalan. Dan jalur itu digunakan khusus untuk sepeda kayuh, sepeda angin, sepeda onthel. Kata temen saya, yang mengantar kemanapun saya pergi, akan ramai dengan sepeda pada sore hari, apalagi jumat sampai ahad sore. Wuih, lapangan dan seputarannya penuh, katanya. Mulai yang cuma nongkrong, pesepeda, pejalan kaki, pedagang kaki lima, dan tentu saja pengunjung yang sorangan maupun yang keluarga.
Bagi saya unik. Saya baru nemu sekali-sekalinya kota punya jalur sepeda. Jalur busway ada, jalur angkotway-nya Depok ada, jalur transJogja ada, calon jalur transSemarang ada. Lha jalur sepeda, baru ini. Jakarta? Boro-boro, pake motor saja bisa berantem gara-gara ngambil jalan orang.
Nah yang tugu Autralia, katanya -ini katanya lho, dulu jaman perang ada orang Australia yang terbunuh disitu, persis di bunderan yang sekarang dibuatkan tugu yang tingginya hanya 2 meteran. Ornamen yang ditampilkan menunjukkan gaya eropa klasik, kayaknya perang dunia kedua deh.
Nah, diawali dengan makan siang di warung…., lupa namanya, dengan menu ikan beronang. Nah yang repot lagi, ternyata mancing ikan beronang ini, umpannya pisang. Ya pisang ! Gak percaya? Sama, sampai saya debat dengan temen saya. Kirain cuma monyet yang makan pisang, ternyata ikan juga makan pisang. Nah terlepas dari makanannya yang pisang, rasanya luarrr biasa. Dimasak bakar, bumbu kecap, dengan sambel yang pedesnya ndak ketulungan, dan ternyata warungnya bersebelahan dengan golf course. Klop dengan pemandangan hijau menghampar. Top markotop pokoknya.
Menuju ke pasar tradisional, ke daerah yang namanya Kebun Sayur. Saya beli beberapa lampit, alas semacam tikar dari anyaman rotan, biasa pesenan mertua. Nah pesenan yang ini tidak boleh kelewat, urusannya bisa panjang. Ngambil anaknya dibawa jauh pula ke Papua, kemudian nitip lampit sampai tidak dibawain? Mmmhhh, tinggal nunggu ceritanya🙂 Keluarga mertua saya baik kok🙂, kan mantu kesayangan…..🙂 Ya sudah dibeli, total beratnya 11KG. Jadi lumayan bingung naruh bebelian lampit di Balino yang cuma segitunya. Ini balino kantor ya……. Hasil merayu pak Bambang..🙂 Pak Bambang, terima kasih….
Kemudian diajakin muter pinggiran kota, ke areanya Total di Gunung Utara, lewat Rapak yang ramai dengan pertokoan, kemudian melaju ke Gunung Dubs komplek perumahan pejabat Pertamina Balikpapan. Wuih mantap banget bro. Berhubung sudah dibangun sejak lama, arsitekturnya masih mirip gaya belanda. Lokasinya berada di perbukitan di atas kota Balikpapan. Jadi seputaran kota Balikpapan kelihatan dari situ. Yang menarik, lokasi bukitnya juga di pinggri pantai, jadi juga bisa melihat garis pantai di Balikpapan. Melihat kapal-kapal tongkang, tug boat, kapal kargo dan deburan ombak dari halaman belakang salah satu rumah Pertamina. Tentunya kami sudah minta ijin yang punya rumah nylonong ke halaman belakangnya. Masing-masing rumah luas, seukuran dengan rumah di Bugenvil Kuala Kencana, dengan kontur perbukitan. Sip banget dah. Kapan jadi pejabat Pertamina untuk tinggal disitu?
Nah sambil jalan, lewatlah kami ke komplek perkantorannya Chevron yang juga di atas perbukitan. Jadi sudah berapa perusahaan yang dilewati?
Nah keluarnya lewat komplek refinery plant-nya Pertamina. Besar banget bo’. Ya namanya juga refinery plant, pengolahan crude oil dan ekstraksi gas dari rig-nya Total dan Chevron. Nah ada yang menarik lagi. Selewat refinery plant, kemudian mendekati jetty Pertamina dan Chevron, ada hutan yang lumayan tidak begitu luas. Dikonsep seperti hutan kota-nya Singapura. Bedanya ini hutan beneran bukan artifisial, plus dengan monyetnya. Ya ada monyetnya. Dan monyetnya tahu diri untuk tidak mengganggu pengguna jalan. Karena batas jalan dan hutang sepanjang jalan itu cuma dikit. Dan tahu diri juga, tepatnya tahu waktu kapan sang manusia mulai merapat di pinggir jalan-hutan untuk menonton tingkah monyet itu, diselingi lemparan makanan terutama kacang dan pisang. Sore, saat yang tepat untuk bermain dengan monyet itu. Sayang Pertamina tidak memperbolehkan masuk ke hutan, minimal trekking lah, bayangannya keren sih…..
Kebingungan bawa lampit tadi, akhirnya diparkir di kantor kami. Nyimpen dikantor, kemudian langsung bergegas menuju ke kantin belakang workshop, menikmati pantai dan angin laut. Pantes Farid tidur, lha anginnya mantap, bikin tidur. Sepanjang mata memandang, deburan ombak, beberapa kapal mengecil di titik horizon, pasir putih dan coklat menghampar di sebelah luar tembok pembatas area kantor.
Berhubung kantinnya bermodel rumah panggung, jadi lelusasa banget memandangnya. Uenak tenan…
Lumayan capek seharian round-round kota, pulang ke hotel.
Malam ini? Cukup menghabiskan waktu di Plaza Balikpapan yang cuma di seberang hotel. Jadi tinggal lewat jembatan penyebrangan, sampailah saya di Gramedia. Yup, salah satu toko penggoda iman. Makanya tidak lebih dari 15 menit saya di Gramedia. Sisanya muter saja tidak punya tujuan untuk melihat mall-nya Balikpapan.
Sayang belum sempet ke Tambora yang spesialis udang, namun ntar baliknya akan coba dikunjungi. Besok? Saya harus melanjutkan perjalanan ke Sengatta. Saya akan lihat apa yang ada di Sengatta selain tambang batubara. Setelah Sengatta masih harus ke Bengalon. Kemudian Samarinda, yang mempunyai Sungai Mahakam yang cantik. Jadi kangen dengan telur penyu. Sayang saya belum sempet ke pulau Derawan deket Berau sana. Cantik sekali pantainya…….
See you @ Sengatta……..

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Agustus 8, 2009, in kisah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: