Motor Curian dalam Al-Qur’an?


Dapet dari milis, awalnya dari milis radio swasta. Semoga mengambil hikmah.
===============

Terdengar keras pintu masuk dibanting kuat-kuat. Mendengar itu Bu Dedeh bertanya-tanya dalam hati: “Siapa gerangan itu?” 

Ternyata Tabrani, anaknya yang baru pulang dari kantor. 

“Kenapa Sep? Kok kamu kelihatan gusar begitu? Apalagi , apa gak malu didengar tetangga, pintu itu kamu banting keras-keras? ” 

“Maaf Bu. Aku kena musibah. Motorku dicuri orang di kantor. Semua orang di kantor dan petugas satpam juga tidak tahu menahu. Aku sudah lapor polisi terdekat, walau tahu itu percuma. Aku benar-benar kalut saat ini. Apalagi kreditannya belum selesai. Aduhhh! harus cari di mana yah!!??? Sepertinya aku benar-benar ingin menghabisi orang yang curi motorku itu, jika beruntung ketemu nanti. Awasss!!!” cerita Tabrani tak ada ujungnya. 

Ibunya melihat kegusaran anaknya berlebihan. Ingin rasanya memeluk dan mengelus dadanya. Namun ia pikir, saat ini ia tidak bisa menghadapi anaknya dengan tenang. Untuk apa menghadapi sebuah batu. 

“Coba kamu cari motormu di Al Qur’an!” seru ibunya sambil berlalu kembali ke kamarnya, sambil berharap ada air yang bisa menghancurkan batu itu. 

“Ibu ngomong apa seh? Tidak bisa lihat aku lagi kesal apa? Kok bisa-bisanya ngelantur seperti itu.” bisik hati Tabrani panas membara. 

***** 

Beberapa hari kemudian, Tabrani keluar kamar dengan tampak cerahnya. Lalu ia menghampiri ibunya, sambil menyematkam ciuman sayang didahi perempuan tua itu. 

Leila adiknya yang berada di situ hanya terheran-heran. “Ketemu jodoh kali?” bisik otaknya. 

“Terima kasih ya Bu! Sudah menjadi ibu yang terbaik, terbaik dari segala perempuan!” 

“Gombal! Kamu kenapa seh?” tanya Bu Dedeh yang masih memerah pipinya. 

“Aku sudah menemukan motorku!” 

“Oh yah? Alhamdulillah! Ketemu di mana?” 

“Ya di Al Qur’an lah Bu. Khan ibu yang bilang.” 

Bu Dedeh tersenyum cerah. 

“Motor? Di Al Qur’an? Emang bisa? Di mana?” tanya Leila. 

“Di ayat-ayat kesabaran, di ayat-ayat keikhlasan, di ayat-ayat bahwa harta itu hanya pinjaman. bukan milik kita, tapi milik Allah SWT!” jawab Tabrani sambil tersenyum kepada adiknya. 

“Ooo gitu toh! Baguslah! Aku udah lama khawatir dengan keadaan Aa.” 

“Iya La! Jangankan motor, kamu dengar tidak berita di teve kemarin. Ada orang yang membunuh penjual pulsa, lantaran pulsa yang ia beli tidak kunjung masuk. Padahal pulsa itu hanya seharga Rp. 10.000,-. Tapi bisa mengubah orang jadi ganas dan lupa diri. Makanya kita harus belajar bersabar dan ikhlas! Apalagi hidup di negara ini yang terasa semakin sempit saja.” kata Bu Dedeh kepada anak-anaknya yang tercinta. 

Tabrani dan Leila mengangguk paham. (by Bang DEPOY)

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Juli 30, 2009, in kisah and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: