do you want it? *repost


Ah, sebuah pertemuan yang agak kurang menyenangkan. Setidaknya bagi saya. Saya gagal mewujudkan dan menginspirasikan sebuah keinginan. Ya keinginan itu sulit untuk ditransformasikan menjadi kesadaran motorik yang menggerakkan raga. Keinginan itu sulit untuk memasuki celah kesadaran dalam jiwa untuk menggerakkan hati. Dan titik yang paling sulit adalah menjaga nyala api itu untuk tetap cukup terang untuk menghangatkan jiwa.
Apologi? Mungkin ya. Namun setidaknya saya berkata jujur, meski bisa jadi itu tidak cukup jujur bagi yang lain.
Namun saya belajar dari setiap pembicaraan saya dengan beberapa teman sebelumnya. betapa lingkungan memberikan kontribusi yang besar. Maka tidaklah mengherankan jika dalam cabang ilmu psikologi muncul aliran behaviorisme dan enviromentalis. Dalam bahasa yang lebih Islami, muncul istilah bi’ah hasanah-lingkungan yang baik. Maka setiap kita dituntut untuk berada dan atau menciptakan lingkungan yang mendukung.
Lingkungan yang mendukung akan mampu mempertahankan keinginan itu sendiri. Betapa keinginan menjadi emosi yang menyala untuk membakar asa. Maka lingkungan berperan untuk menjadikan nyala api itu tetap stabil, cukup panas untuk membakar, cukup terang untuk menerangi dan cukup besar untuk membuat orang terkagum-kagum.
Menjelang Ramadhan ini, pertanyaannya kenapa kita selalu puasa di Ramadhan, sebulan penuh bahkan? kenapa kita sulit, jika tidak boleh mengatakan tidak, berpuasa sunnah? betapa indahnya Ramadhan yang membentuk kebersamaan.
Maka memetik hikmah Ramadhan adalah membentuk lingkungan yang baik yang mampu mendukung keinginan setiap dari kita. bagaimana jika tidak terdapat lingkungan yang mendukung? ciptakan.

=====================
*Do You Want It?*
Oleh Syarif Niskala

Keinginan adalah salah satu bentuk emosi. Itulah sebabnya, para penyusun strategi pemasaran senantiasa mengupayakan agar setiap kebutuhan (penting atau tidak penting) terlihat seperti keinginan. Hanya kebutuhan yang sudah dicitrakan sebagai keinginanlah yang mampu mewujudkan penjualan, terutama dalam era kompetisi yang ketat. Itulah mengapa desain cover sebuah buku harus emosional. Atau beras diwadahi kemasan penuh tulisan provokasi. Atau sebongkah sabun padat diiklankan oleh super model yang pasti tidak sudi memakainya, kecuali saat pengambilan gambar iklannya. Atau seorang gadis yang mematutkan dirinya dihadapan pria incarannya. Bukankah semua pria normal membutuhkan wanita? Tetapi yang dipilih sang pria hanyalah gadis yang diinginkannya.

Nasihat seorang sahabat mengatakan, jangan padamkan keinginan untuk meraih sesuatu yang besar dan bernilai melainkan lipat gandakanlah upaya hingga Anda pantas mendapatkan keinginan itu. Lagi pula, keinginan yang baik adalah anugerah dari Yang Maha Penyayang, maka bersyukurlah dengan upaya yang pantas mewujudkannya.

Sebagai makhluk yang diciptakan memiliki naluri alamiah menguasai, manusia cenderung memiliki banyak keinginan. Bahkan jika Anda membuat daftar keinginan sendiri, mungkin akan terkejut melihat jumlahnya. Untungnya, kita dianugerahi kemampuan berpikir untuk melihat keterkaitan antar banyak hal.
Dengan itu, seharusnya kita dapat melihat urutan logis hirarki keinginan-keinginan kita yang banyak itu. Maka, nasihat terbaiknya adalah memilih keinginan yang pemenuhannya juga sekaligus menjawab keinginan-keinginan lainnya yang banyak itu. Fokuslah hanya pada sedikit saja keinginan yang bernilai tinggi, berukuran besar, dan bermanfaat bagi banyak orang.

Sebagai sebuah emosi, keinginan memiliki energi. Untuk itu, semakin besar keinginannya maka akan semakin berdaya energi yang ditimbulkannya. Itulah sebabnya ada keinginan yang sirna karena cuaca mendung, tetapi juga ada keinginan yang mampu mencairkan badai salju lebat (Napoleon Bonaparte). Ada keinginan yang patah karena gagal dalam percobaan pertama, tetapi juga ada keinginan yang mampu mentenagai percobaan 999 kali yang berujung pada kegagalan (Thomas Alfa Edison).

Ya, benar sekali. Sebagai sebuah emosi, keinginan tidak bisa diukur.
Satu-satunya ciri bahwa keinginan Anda besar adalah upaya yang dilakukan untuk mencapainya besar. Sebuah keinginan mulia ditandai dengan upaya yang mulia. Sebuah keinginan yang kerdil, dapat terlihat jelas pada upayanya yang juga kerdil. Seorang yang berkata ingin menjadi presiden, tidak lebih baik dibandingkan seseorang yang sedang berupaya keras menjaga sikap, mencari ilmu, menjalin relasi, mengabdi pada publik tapi tidak mengucapkan ?aku ingin jadi presiden’. Keinginan itu tergambar pada upaya, bukan pada lantangnya kata-kata.

Do you want it?
Do not say it, but DO IT!

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Juli 23, 2009, in pencerahan and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: