Bahasa: Semangat Kolektif Kebangsaan


Menjelang 28 Oktober dan 10 November, selalu setiap orang berbicara tentang kebangsaan dan kepahlawanan. Ya, 10 November identik dengan kepahlawanan, terlebih dengan ikon Bung Tomo, menjadikan Surabaya sangat favorit.
Satu hal yang menaik adalah kesadaran kolektif untuk bernegara dan berkumpul dalam satu bangsa yang bernama Indonesia, pada waktu itu. Saya selalu bertanya-tanya, bagaimana orang-orang yang di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa berkomunikasi untuk bersama membangun kesadaran kolektif itu? Anggap saja mulai 1928. Gerakan masif nasionalis itu mulai menggejala. Dimulai dari konggres pemuda, kemudian konggres wanita.

Saya memahami bahwa perlawanan rakyat pada masing-masing daerah, lebih dikarenakan penindasan Belanda pada daerahnya. Artinya semangat kebebasan itu lebih ke arah pembebasan lokal, bukan kolektif kebangsaan. Dengan teknologi komunikasi saat itu, saya ragu jika kemudian komunikasi intensif seperti saat ini bisa terjalin. Satu-satunya asumsi saya adalah para cendekiawan, terpelajar, yang memang belajar di Belanda dan bertemu dengan pelajar lainnya dari daerah lain. Titik temunya di Belanda. Justru di Belanda, mereka menyadari adanya kesamaan dan merumuskan kesadaran itu dalam bentuk yang lebih nyata, negara. Sekali lagi, ini asumsi saya. Monggo yang ahli sejarah berkomentar.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana mereka, yang sudah ngeh tentang negara, bisa mengatakan nusantara atau Indonesia adalah dari Papua sampai Sumatera? Merujuk ke terminologi nusantara pada jaman kerajaan Majapahit, bentangan Nusantara selain wilayah Indonesia saat ini, juga mencapai Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina. Kurang lebih se-Asia Tenggara. Batasan, bagaimana mereka tahu batasannnya? Atau bisa jadi karena kesamaan sejarah dan penjajah? Wallahu a’lam.

Tapi satu hal yang saya baca, mereka bertemu, mereka berbicara, mereka merumuskan, mereka bertindak. Dan semangat kolektif kebangsaan itu ditularkan paa waktu mereka kembali ke daerah masing-masing, dengan segala tantangannya.
Masih ingat, jika pada konggres wanita, mereka bersepakat untuk menggunakan bahasa Indonesia, sesuai dengan hasil kongres pemuda 2 sebelumnya. Yang menghasilkan sumpah pemuda. Namun sebagian besar pembicaranya tidak fasih berbahasa Indonesia. Mereka lebih fasih berbahasa Belanda. Namun bukanlah sebuah semangat jika mereka tidak bisa mengubahnya. Para pembicara itu belajar, ya belajar. Dan dalam waktu beberapa bulan sejak kongres pemuda itu mereka fasih berbahasa Indonesia. Dan jadilah konggres wanita itu berbahasa Indonesia, meski tidak cukup fasih dan terkadang belepotan.
Sebutlah Raden Ayu Siti Soendari, saya nukilkan sedikit dari beberapa literatur.

Ahad, 22 Desember 1928, hujan lebat digiring angin ribut mengguyur bumi sejak subuh. Tapi cuaca keruh itu tidak mengganggu keriuhan pendopo Joyodipuran seharian. Seribu lebih perempuan berkumpul di rumah milik bangsawan Raden Tumenggung Joyodipuran. Jogjakarta. Diantara yang hadir adalah Raden Ayu Siti Soendari, 23 tahun, pengajar di Kweek School Surakarta, membawakan pidatonya yang berjudul Kewadjiban dan Tjita-Tjita Poetri Indonesia.

Soendari mengawali pidatonya dengan anggun, bernada penjelasan dan minta maaf. “Sebeloem kami memoelai membitjarakan ini, patoetlah rasanja kami terangkan terlebih dahoeloe, mengapa kami tidak memakai bahasa Belanda ataoe bahasa Djawa. Boekan sekali-sekali karena kami hendak merendahkan bahasa ini atau mengoerangkan nilainja. Sama sekali tidak.” Hadirin terkesima.
Sang putri melanjutkan. “Akan tetapi barang siapa diantara toean jang mengoendjoengi kerapatan pemoeda di kota Djacarta beberapa boelan jang laloe, tentoe masih mengingat hasilnja, jaitoe hendak berbangsa satoe, bangsa Indonesia, hendak bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia, dan hendak mendjundjung bahasa persatoean, bahasa Indoensia. Oleh karena jang terseboet inilah maka kami, sebagai poetri Indonesia jang lahir di poelaoe Djawa jang indah ini, berani memakai bahasa Indonesia di moeka rakjat ini. Boekankah kerapatan kita kerapatan Indonesia dan dioentoekkan bagi seloeroeh kaoem istri dan poetri Indonesia, beserta tanah toempah darah dan bangsanja?

Sumpah Pemuda -gambar diambil dari google

Menarik. Dr. Keith Foulcher, pengajar jurusan Indonesia di Universitas Sydney Australia, dalam Jurnal Asian Studies Review September 2000, berkata: “Hanya dalam jangka waktu 2 bulan, perubahan dahsyat terjadi.
Bahasa Indonesia saat itu memang belum dikenal luas. kaum priyayi lebih suka berbahasa daerah, misal Jawa atau Sunda. Sementara kaum intelektual berbahasa Belanda.

Nah, kemudian, apakah kita sebagai generasi sekarang belajar untuk memelihara semangat keolektif kebangsaan itu?
Mumpung dekat dengan peristiwa monumental Sumpah Pemuda, di 28 Oktober, apa semangat kolektif kebangsaan kita, saat ini? Berbicara dalam bahasa Indonesia? Untuk yang satu ini saya mempunyai catatan tersendiri.

Saya, sejak kecil sampai belajar di perguruan tinggi, tidak terlalu banyak lingkungan yang mengharuskan saya berbahasa asing, sebutlah bahasa Inggris. Mulai bekerja, di perusahaan lokal, sebenarnya, namun karena direktur operasionalnya adalah warga negara asing dan lumayan sering berinteraksi, jadilah saya sering menggunakan bahasa Inggris. Tentunya dalam urusan pekerjaan, sampai pada makian dan ketidak puasan menggunakan bahasa Inggris.

Berpindah ke perusahaan berikutnya, ternyata setiap hari saya dituntut untuk berbicara dalam bahasa Inggris, lagi-lagi karena atasan saya adalah warga negara asing. Dan saya pun mulai bermimpi, benar-benar mimpi, menggunakan bahasa Inggris. Tidak hanya sekedar kata, namun juga memahami kenapa kata ini digunakan, kenapa para warga negara asing itu berbeda logat dan penggunaan kata. Sepertinya bahasa Inggris menjadi bahasa kedua yang sangat fasih diucapkan, tanpa perlu berpikir lagi.Dan saya pun mulai sadar, ternyata presiden saya juga tidak lebih buruk dari saya, meski diatur dalam undang-undang, pidato kenegaraan dalam negeri menggunakan bahasa Indonesia.

Hanya memang menarik. Beberapa teman kerja, lebih sering dan sangat bangga untuk berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Aseli! Beliau banyak menggunakan bahasa Inggris meski yang diajak ngobrol adalah saya. Dan tidak berhenti dalam bahasa dan kata, beliau sangat sangat meniru kebudayaannya.  Ada lagi teman kantor yang lain. Yang satu ini, hobinya menggunakan bahasa Inggris dalam email, meski yang dituju adalah aseli Indonesia dan tidak ada warga negara asingnya. Nah!

Saya? Berhubung cukup lama menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, saya masih kecampur-campur dalam bahasa verbal saya. Pada beberapa kata yang tidak disengaja, semacam keceplosan, pasti menggunakan bahasa Inggris.
Saya dan beberapa temen, mempunyai komitmen untuk menjaga nasionalisme ini dengan menggunakan bahasa Indonesia setiap 28 Oktober, siapa pun yang ngajak ngobrol dan email. Jadi di 28 Oktober, saya pasti menggunakan bahasa Indonesia, tidak peduli yang ngajak ngobrol warga negara asing. Tentunya tindakan ini ditertawakan para warga negara asing, apakah mereka paham alasan saya? Saya tidak pernah bertanya. Dan akhirnya mereka berjuang keras untuk mengatasi jurang ini dengan belajar bahasa Indonesia, seadanya, gara-gara sehari di 28 Oktober.

Jika di Australia, bahasa Indonesia menjadi bahasa pilihan yang diminati. Di Arab Saudi, terutama Mekah dan Madinah, beberapa nama jalan dan petunjuk ada yang menggunakan bahasa Indonesia. Hanya di Suriname yang menggunakan bahasa Jawa Ngoko. Disini? Di negaranya sendiri? Sepertinya telunjuk pertama akan kita arahkan ke yang terhormat bapak presiden kita. Mbok yao jika pidato di dalam negeri menggunakan bahasa Indonesia. Lha jika presidennya begitu, saya juga pengin bisa pidato berbahasa Inggris.

Ini terkait dengan komitmen kolektif kebangsaan bung! Selama negara ini masih menjunjung bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa, sebagai simbol persatuan, sebagai komitmen kolektif, lakukan! Jangan hanya berhenti di tataran idelita dan dialektika belaka.
Namun, sekali lagi, alat pemersatu bangsa, bukan menjadi bahasa satu dan satu-satunya. Tentang ini, mungkin akan ditulis terpisah.

Atau menunggu dijajah lagi?
Dan saya ingat dengan mas Pandji, dia bilang Nasional Is Me! Sayang, beliaunya masih nyampur Indonesia-Inggris dalam bukunya itu.

About ihdaihda

a husband, a father, SHE practitioner (OHSAS, NOSA, EMS), SHE trainer & consultant, hobi di applied psychology, financial planning, sharing, life enlightening. alumni Hiperkes UNS dan saya aseli Kudus :)

Posted on Oktober 30, 2011, in pencerahan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: